Menurut Jean Gelman Taylor, sejarawan Perancis kebaya merupakan kostum bagi semua kelas sosial pada abad ke 19 di Indonesia, kebaya dikenakan bukan hanya wanita pribumi saja namun wanita-wanita Belanda dan keturunannya.
Kata kebaya berasal dari bahasa arab yang artinya baju bagian atas, dan diperkirakan orang-orang Arab memperkenalkan jenis pakaian ini ke wilayah Nusantara berbarengan dengan masuknya bangsa protugis.
Versi lain menyebutkan blus wanita yang ditutup dibagian tengahnya ini diperkenalkan oleh peranakan Cina yang mendiami wilayah-wilayah Asia Tenggara.
3. Selendang
Pada masa penjajahan dulu, selendang merupakan simbol pakaian rakyat yang biasa dikenakan berpadu jarik atau tapih. Jarik atau tapih merupakan pembalut atau busana utamanya, semetara selendang senantiasa berupa busana pelengkap yang melambangkan kehormatan, keanggunan dan keindahan wanita.
Kain yang seringkali berwujud menjulur di bagian depan pakaian wanita ini memilki nama dan coraknya masing-masing di berbagai daerah dari zaman ke zaman, kini selendang juga masih menjadi atribut penting pakaian nasional.
4. Kopiah
Selain sarung, kopiah juga menjadi atribut busana yang sempat menjadi simbol perlawanan di masa penjajahan. Pelopor pergerakan dan aktivis pemuda suka menggunakan penutup kepala yang umumnya terbuat dari beludru ini sebagai ciri keIndonesiaan mereka.
Kita lihat saja dari bapak Moh. Yamin, Agus Salim dan Soekarno adalah contoh dari perintis dan pendiri bangsa yang dikenal konsisten menggunakan kopiah. Dalam buku otobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad menggunakna kopiah sebagai simbol pergerakan. Sampai hari ini, kopiah merupakan salah satu atribut busana yang mencerminkan identitas nasional.
sumber: majalah mandiri prioritas